bukan aku takut untuk mengakui
namun aku takut mengistilahkan apa tentang rasa ini
bukan aku takut salah
tapi aku takut jika ini memang benar adanya
ribuan tulisan pernah kubaca tentang sebuah rasa ini
ribuah syair, puja dan puji pernah ku cermati
beribu rupa rasa yang terlukis di dalamnya
tapi..
aku hanya bisa menuliskannya dengan sederhana
dari huruf huruf yang kurangkai menjadi kata dengan segala rupa rasa
aku hanya bisa menuliskannya dengan sederhana
dari kata - kata yang kurangkai menjadi kalimat dengan do'a dan pengharapan
tulisanku adalah pendaran hatiku
hatiku yang berbisik pada jemariku
ketika mulutku terkunci karena segenap rasa itu
rasa yang mendesak hatiku untuk berbisik
bukan untuk berteriak
cukup berbisik
karena bisikannya adalah kejujuran
jiwaku teranggas kemarau seperti randu
jantungku berdegup melemah tak menentu
airmata rindu selayak sungai berliku
aku tak perlu mengatakannya padamu
karena kau sudah tahu melalui mata hatimu
senandung desauan angin membelai semak
seiring senyum yang kugambarkan dalam bayanganmu
tak memaksamu untuk memahami rasa ini
tak memaksamu untuk mengerti rasa ini
cukup saja rasa ini untukku sendiri
cukup senyummu saja disana yang akan menemani
tak perlu mendekat padaku
karena mungkin langkahku akan terhenti
dan jangan jauhi aku karena rasa ini
karena..
kini segenap rasa ini ada padamu
lalu bagaimana aku dapat berahasia pada senja?
jika hampir semua isi batin ini ada padamu
jika binarmu menyimpan semua gundah dihatiku
*biru ditemani hening di atas bukit memandang langit biru*
21.28
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar